“Aaaaaaahhhhh!”

Kirana memekik ngeri. Begitu lantang, memanggil para ksatria Bing Bangau kembali dari dunia mimpi.

Dan terkejutlah mereka setengah mati, menyaksikan makhluk buas yang ada di tengah mereka, datang tanpa mereka sadari. Pemimpin para ksatria itu menghela nafas, ia sedikit gentar. “Ksa.. Ksatria Bing Bangau, angkat pedangmu! Jangan takut! Kepung dia, incar kakinya terlebih dahulu!” teriaknya sambil menghunuskan pedang.

Macan itu mengaum. Baik ia maupun para ksatria Bing Bangau, keduanya sudah siap bertempur. Detik berikutnya, macan itu pun berlari dan meloncat, melontarkan serangan pertamanya. Tak menunda, dengan cepat ia menjerat para ksatria itu dengan enam ekornya, mematahkan tulang-tulang mereka sampai mereka tak berdaya, lalu merobek perut mereka satu per satu, tanpa ampun.

“Tolong! Tolong!” Ksatria-ksatria pemberani itu mulai ribut, ketakutan. Mereka tahu pasti, ajal datang menjemput. Para ksatria berusaha menebas-nebas pedang mereka, tapi tak ada satu goresan pun yang berhasil mereka buat. Dalam sekejap saja, nyawa keempat ksatria Bing Bangau itu sudah habis.

Sementara itu, satu-satunya yang tersisa, sang pemimpin ksatria Bing Bangau melihat celah. Ia terus berlari menuju arah macan raksasa itu, loncat ke punggungnya, lalu menikam kedua mata macan itu dari belakang dengan pedangnya.

“Graaaaaaaaa!” Macan itu meronta kesakitan. Badannya yang besar terpelanting ke tanah dengan keras.

Segera ksatria perkasa itu menikam perut macan itu sekali lagi. Dua kali lagi. Tiga kali lagi. Ia mengira, semua tusukan itu sudah cukup untuk menumpasnya; namun macan itu bangkit, tidak terkalahkan oleh hunusan pedang. Dengan ekornya, ia menepis dan membuang jauh-jauh pedang dari tangan pemimpin ksatria itu, sedang ekornya yang lain, mencekiknya hingga ia tewas. Habislah sudah kelima ksatria Bing Bangau di tempat itu. Tak ada satu suara pun yang terdengar lagi, selain tangisan Kirana yang ketakutan.

Macan yang terluka itu lalu mengendus-endus, berusaha mengenali sekitarnya, karena matanya sudah buta. Ia pun berjalan menuju arah Mamunyi, ia mengenal bau dari pertapa itu. Dengan perlahan ia merobek tali yang mengikat Mamunyi. Tapi begitu ia mendekati Kirana, ia menggeram, seperti ingin segera menerkam Kirana. Tapi macan itu langsung menjinak ketika Mamunyi melambai-lambaikan tangannya di dekat Kirana. Dan demikianlah mereka berdua terbebas dari para ksatria Bing Bangau.

Tangisan Kirana berhenti. Dengan penuh keyakinan, ia pun kini percaya bahwa binatang gaib itu memang datang oleh panggilan Mamunyi untuk menyelamatkan mereka. Ia percaya, bahwa Mamunyi, adik tuannya itu, memang adalah seorang pertapa sakti. Terlampau lelah, ia pun tertidur. Kini tidak dalam ketakutan, namun dalam kepastian.

Pagi yang cerah datang kembali, layaknya telah usai menumpas mimpi buruk yang terjadi semalam.

Kirana terbangun, dan ia sadar macan berekor enam itu masih ada di sana, tapi kini dengan mata dan perut yang diperban. Di sebelahnya, ada Mamunyi, dengan lembut mengelus-elus macan itu.

“Tu, tuan Mamunyi,” sapa Kirana sambil berdiri. Hatinya penuh dengan pertanyaan, yang ia tahu tabu untuk ditanyakan. “Apakah tuan mendapatkan cukup tidur semalam?”

Melihat Kirana yang sudah terbangun, Mamunyi mengambil ramuan tumbuh-tumbuhan yang sudah ia siapkan sebelumnya, lalu memberikannya pada Kirana.

“Ini… Untuk hamba?” Kirana sedikit terkejut.

Mamunyi tidak menjawab. Ia bergegas pergi menjemput macan itu kembali.

“Terima kasih, tuan.”

Karena lapar, Kirana memakan ramuan itu dengan lahapnya. Sampai ia sadar, bahwa di dalam ramuan Mamunyi, terdapat plira—tumbuhan yang konon disebut orang sebagai sumber kekuatan para kaum raksasa. Sementara ia makan, Mamunyi membisikkan sesuatu kepada macan berekor enam itu, sebelum akhirnya ia pergi jauh dari Mamunyi dan Kirana. Lalu Kirana sadar, bahwa mungkin macan itu hanya bisa hidup dalam kegelapan malam, ketika matahari tak bersinar.

Lalu Mamunyi dan Kirana pun melanjutkan perjalanan mereka menyusuri Gurun Matahari. Berkat ramuan Mamunyi, 9 hari dan 9 malam lamanya mereka berjalan tanpa lelah, sampai akhirnya mereka tiba di Tangka Agung, oasis terakhir dan terbesar yang terdapat di penghujung Gurun Matahari. Tangka Agung menyerupai danau besar yang berlapis-lapis, dan di salah satu lapisannya, terdapat air terjun Sanu Bari, gerbang menuju Kerajaan Lara. Hari itu adalah adalah hari ke-72 sejak Mamunyi dan Kirana meninggalkan Batu Ji.

Terdapatlah beberapa pohon ekus di sekitar Tangka Agung, di mana baik panas matahari atau panas apapun tidak dapat menembus daun-daunnya. Karena lelah, berbaringlah Mamunyi di sana sampai ia tertidur pulas. Seraya ia tidur; Kirana, tanpa disengaja, melihat surat Langgana terjatuh dari balik jubah pertapa Mamunyi. Dengan gesit ia mengambilnya, dengan maksud untuk langsung mengembalikannya kepada Mamunyi.

.

Namun ia berhenti.

Jantungnya berdegup kencang. Kirana tahu, bahwa ia hanyalah seorang hamba perempuan dari Langgana. Ia tahu, bahwa untuk diam-diam membaca surat itu merupakan hal yang tabu. Ia tahu, bahwa untuk mengetahui rahasia tuannya akan membuatnya berdosa. Namun ia juga tahu, bahwa hati manusia itu lemah, dan rasa keingintahuannya itu begitu kuat. Lebih kuat daripada yang paling tabu yang ada di dunia ini.

Tak menunda, dibuka dan dibacanyalah surat itu—surat yang berisi permohonan terakhir Langgana.

Samiha,

sahabatku, teman dari jiwaku.

Sesungguhnya aku berharap aku bisa menyampaikan hal ini secara langsung kepadamu. Namun waktuku tidak bersahabat. Dalam waktu dekat ini, Kerajaan Bing Bangau akan segera menyerang Batu Ji dengan segenap pasukan mereka. Dan jika ibukota Batu Ji jatuh, maka tidak akan ada lagi kota yang bisa dipertahankan. Kemungkinan besar, ini, akan menjadi akhir dari Kerajaan Bamang.

Hatiku begitu pedih dan takut, mengetahui bahwa pedang dan panah akan segera menjemputku. Namun Mamunyi, adik kesayanganku, ia tetap hidup, dan kuat. Kubawa ia kepadamu, supaya ia selamat. Bersamanya adalah Kirana, hamba perempuanku. Ia juga adalah seseorang yang kukasihi, namun kehadirannya telah membawa kegelapan ke dalam hidupku dan Mamunyi. Karena itu dengarkanlah permohonanku ini.

Bunuhlah ia. Dan dengan darahnya, Mamunyi akan bisa mendapatkan apa yang selama ini telah hilang dari padanya.

Demikianlah permohonan terakhirku. Biarlah hanya kepadamu, Samiha, jiwaku akan meronta.

.

Kirana berhenti membaca.

Ia tersentak. Tangannya tak berhenti gemetar. Ia tak sanggup menatap tulisan-tulisan dalam surat itu lebih lama lagi.

Tuan Langgana, Tuan Langgana!

Jiwa Kirana menjerit. Sanubarinya terusik. Ia tahu, bahwa pasti ada alasan di balik permohonan terakhir tuannya itu. Namun kepada siapakah hatinya harus bertanya? Langit tidak menjawab, dan deras air memilih untuk diam.

“Aku…” begitu getir Kirana bersuara, “Tuan Langgana… Tidak mungkin bermaksud membunuhku sejak awal, bukan?” Kirana mulai meragu. Tak bisa lagi ia berpikir jernih.

Mengapa, ia bertanya. Ya, mengapa.

.

Dalam kegalauannya, Kirana pun teringat akan macan berekor enam, yang akan segera datang saat malam tiba. Kirana pikir, jangan-jangan, jika nanti Mamunyi bangun dan membaca surat dari kakaknya, Mamunyi bisa menyuruh binatang gaib itu untuk langsung membunuhnya.

“Apakah lebih baik, jika kubunuh pertapa ini terlebih dahulu, sebelum aku dibunuhnya?” hati kecil Kirana berbicara.

Seketika itu juga, darah Bilawala Kirana memanggil kembali keberaniannya yang sudah terkubur lama untuk bangkit. Segera ia mengambil sebilah pisau yang berada tak jauh dari tangannya, lalu ia mulai melayangkan pandangannya kepada jantung pertapa yang tertidur di hadapannya. Perlahan ia mengamati adik tuannya itu. Setiap hembusan nafas. Setiap degupan jantung. Gerakan sekecil apapun tak juga luput dari penglihatan Kirana. Ia sudah siap untuk memilih takdirnya, sebagai sang pembunuh pertapa sakti dari Bilawala.

Diangkatnya pisau itu tinggi-tinggi, siap diayunkan. Siap menikam jantung Mamunyi.

“Matahari,” sahutnya, “kumohon, janganlah pernah terbenam.”

(Bersambung)

Hari ke-62 sejak Mamunyi dan Kirana meninggalkan Batu Ji, Gurun Matahari.

Kehabisan nafas.

Angin menggebu.

Jantung ikut berpacu.

Kirana pikir, pertapa tua yang berjalan di depannya, sudah mau mati juga.

Langkah Mamunyi mulai terasa berat untuk diayunkan. Ia berhenti sejenak. Tubuhnya langsung terpelanting ke pasir, tak menunda. Ia menaruh tangan kirinya di dada, kesakitan.

Jantungnya meronta,

DUM

DUM

DUM

tiap degupan terdengar seperti gempa.

Di belakangnya, Kirana, hamba perempuan itu, memperhatikan gerak-gerik Mamunyi dengan seksama. Tidak mencari bantuan. Tidak mencari bahan pembicaraan. Tidak, memang mereka tidak pernah berbicara sekalipun. Tentang Langgana, tentang perjalanan mereka, ataupun tentang Larapura, ibukota Kerajaan Lara, yang masih jauh dari penglihatan. Entah berapa lama Mamunyi dan Kirana sudah menempuh Gurun Matahari, tempat yang orang sebut sebagai gurun pasir yang tak terbatas. Dataran gersang yang membentang di cakrawala dengan pemandangan yang selalu sama, dan langit yang selalu sama. Tak ada satu pun manusia biasa yang tercatat dalam sejarah, bisa keluar dari Gurun Matahari dengan selamat. Di ujung gurun pasir itu, di balik air terjun Sanu Bari, terdapat Kerajaan Lara, tempat hidup kaum orang suci, tujuan akhir perjalanan Mamunyi.

Menyusul sang pertapa, Kirana pun merebahkan dirinya di pasir, beristirahat di bawah terik sambil menjagai adik tuannya itu. Sesekali, perhatiannya terusik oleh surat yang dititipkan Langgana kepada Mamunyi. Kirana, ia teringat akan tuannya. Ia khawatir, dan sekaligus bertanya-tanya dalam hati, mencari kepastian. Apa yang ditulis Langgana dalam surat itu? Apa permohonan terakhir tuannya? Lama ia menerawang, sampai akhirnya ia mendengar mereka datang.

DRUK. DRUK. DRUK. DRUK.

Suara langkah kaki kuda. Bergerombol. Tiga, empat, lima orang perkasa datang dari kejauhan, menuju arah Mamunyi dan Kirana. Mereka menunggangi kuda putih yang besar, bersenjata lengkap dan mengenakan baju ksatria. Raut mereka tampak begitu kusam karena debu dan pasir yang terbang ke udara, sepertinya mereka telah lama mengembara.

“Siapakah kalian? Sedang apa kalian di sini?” penunggang kuda yang paling depan mengangkat suara.

Mamunyi, yang tepat berdiri di depannya, tidak tergugat. Ia hanya memperhatikan penunggang kuda itu dengan seksama, seolah-olah sedang membaca nuraninya.

“Jawab!” teriak sang ksatria yang naik pitam. Sementara ksatria yang lain menarik pedang mereka masing-masing dari sarungnya, bersiap untuk gencatan senjata. Di gurun pasir yang tak terbatas ini, kesabaran hati sangatlah terbatas.

“Kami bukan siapa-siapa.” suara Kirana bergetar, mewakilkan Mamunyi. “Tuan saya ini adalah pertapa dan saya hanyalah hamba perempuan dari kakaknya. Kami sedang dalam perjalanan menuju Larapura untuk menemui seseorang di sana.”

“Pertapa? Hamba perempuan? Larapura?” nada ksatria itu terdengar heran. Ia turun dari kudanya, lalu terbahak.

“Kalian,” kalimatnya terputus sebentar, “orang saktikah?”

Mamunyi dan Kirana tidak menggeleng, tidak mengangguk.

“…”

“Tangkap mereka!” ksatria itu lantang bersabda, langsung menyimpulkan.

Mungkin diam bukanlah reaksi yang tepat bagi Mamunyi dan Kirana.

Segera, empat ksatria yang lain turun dari kuda mereka masing-masing dan mengikat tangan Mamunyi dan Kirana, tanpa perlawanan. Kirana tak berhenti menatap Mamunyi, berharap semoga pertapa itu menerapkan ilmu-ilmu saktinya sekarang.

Lima detik. Sepuluh detik. Lima belas detik.

Tak ada reaksi apapun yang datang dari Mamunyi. Ia, dengan tenang, hanya membiarkan tangannya dan tangan Kirana terikat begitu saja. Kirana menerka-nerka, mungkinkah Mamunyi sedang menyusun rencana tertentu untuk menyerang balik? Tapi di sisi lain, hati kecilnya juga mulai mempertanyakan Mamunyi. Mungkin adik tuannya itu memang sudah gila. Mungkin ia hanya berpura-pura jadi pertapa sakti.

Melihat tangan Mamunyi dan Kirana sudah terikat kencang, sang ksatria menjadi lebih terbuka. Ia memaparkan maksud tersembunyinya. “Kami tersesat,” nadanya masih tak bersahabat, “dan kalian akan membawa kami keluar dari sini, pulang menuju ke Kerajaan Bing Bangau.”

Di sana, jantung Kirana berhenti sekejap.

.

.

.

A.. pa?

Mendengar mereka adalah para ksatria Kerajaan Bing Bangau, perempuan itu gemetar. Wajahnya berubah jadi pucat pasi. Bagaimana tidak, Bing Bangau adalah kerajaan yang saat ini sedang menyerbu Batu Ji, tempat tinggalnya, tempat tinggal tuannya. Musuh besar Kerajaan Bamang. Kirana dan Mamunyi, seperti berada dalam kandang harimau.

“Ada apa?” ksatria itu menyadari gelagat aneh Kirana. “Kalian, bukan diutus dari kerajaan tertentu, bukan?”

“Bu, bukan. Kami hanyalah pengembara.”

Jawaban singkat Kirana cukup untuk menyelamatkan mereka berdua, setidaknya untuk saat ini. Ia mulai merasa sedikit waswas, jika saja para ksatria ini mengetahui bahwa ia dan Mamunyi berasal dari Kerajaan Bamang, maka habislah sudah.

“Dirikan tenda!” suruh ksatria itu kepada empat ksatria yang lain, “Kita bermalam di sini!”

Lalu ia menghampiri Kirana terakhir kali dan memberi petuah, “Beristirahatlah, kau dan tuanmu. Kita akan memulai perjalanan esok pagi.”

Malam pun datang menjemput. Sepi. Yang terdengar hanyalah kidung para jangkrik yang berkumandang, bertemu dengan dengkuran dari lima ksatria yang kelelahan. Sementara itu, mata Kirana tidak terpejam. Begitu pula Mamunyi. Mulutnya berbisik sendiri tanpa suara, seperti sedang mengucapkan mantra. Kirana mengira, mungkin Mamunyi sedang sembahyang kepada para dewa untuk memohon bantuan.

Seraya itu, dari kejauhan, ia datang.

Bukan dewa, melainkan seekor macan raksasa berekor enam, kini tepat berada di depan Kirana. Kulitnya kuning menyala dan matanya setajam belati yang baru diasah, begitu gagah dan tangguh. Kaki-kakinya yang besar dan kuat diayunkannya dengan perlahan. Begitu lembut, tidak menggugah para ksatria untuk bangun. Enam ekornya menghempaskan debu-debu ke udara, seperti layaknya harapan untuk hidup Kirana yang terasa telah pupus. Macan itu menggeram, ia siap menerkam.

Dalam hatinya, Kirana memekik.

Tolong.

Hatinya mengadu.

Tuan Mamunyi, tolong selamatkan saya.

Sekali lagi hatinya berseru.

(Bersambung)

Tahun 612 caka, Batu Ji, Ibukota Kerajaan Bamang.

TENG-TENG-TENG.

Mamunyi tidak mendengar suara lonceng pagi itu. Kemulnya, walaupun agak berdebu, masih didekapnya erat dengan segenap tenaga, sampai keningnya mengernyit. Keriput di wajahnya makin terlihat jelas. Membuatnya nampak menua di usianya yang sudah lanjut. Badannya yang kurus kering sedikit menggigil karena udara luar yang dingin. Walaupun begitu, masih saja ada butiran-butiran peluh di tubuhnya, tak juga pergi. Mamunyi tidak terbangun. Ia terlampau lelah, bahkan untuk bermimpi. Baru saja semalam, ia pulang dari meditasinya selama 300 hari di Gunung Pilik yang konon katanya keramat dan penuh dengan binatang gaib. Tak ada satu makhluk pun yang heran, sebab Mamunyi memang dikenal sebagai seorang pertapa sakti, ahli obat terkemuka di Kerajaan Bamang.

Kriet.

Dari sisi yang lain, seorang perempuan memasuki kamar Mamunyi. Langkah demi langkah, sangat perlahan dan hati-hati. Kirana, hamba perempuan dari Langgana—kakak sulung Mamunyi—tidak ingin membangunkan adik tuannya itu dengan hentakan kaki. Tidak pantas, pikirnya. Kirana telah dipungut oleh Langgana dan menjadi hambanya sejak kecil, setelah seluruh keluarganya dibunuh oleh para ksatria Kerajaan Bamang, termasuk Langgana sendiri. Ia dan keluarganya berdarah jingga, yang orang percaya sebagai keturunan langsung dari suku Bilawala—suku yang berbahaya, suku para pembunuh dan perompak. Namun demikian, setelah peristiwa itu, Langgana membawa pulang dan menyayangi Kirana. Membuatnya tetap hidup. Memberinya alasan untuk hidup. Karena itu, hati Kirana tidak menyimpan dendam. Ia sayang kepada Langgana. Ia perempuan berdarah Bilawala, berhati Bamang.

“Tuan Mamunyi,” ujar perempuan itu sambil menggugah bahu Mamunyi perlahan.

Ia masih tak tergoyahkan.

“Tuan Mamunyi,” panggil Kirana sekali lagi. Kali ini ia mengguncangnya lebih kencang.

Mamunyi berpaling sejenak, masih setengah tidur. Sosok Kirana cukup terlihat jelas dalam penglihatannya yang rabun. Tatapannya sinis, ia merasa terusik. Sejak awal, Mamunyi membenci Kirana. Karena ia keturunan Bilawala. Karena darah jingganya masih tercium jelas di hidung Mamunyi. Karena Langgana menyayanginya. Seumur hidupnya, Mamunyi tak pernah berbincang sekali pun dengan Kirana. Satu-satunya waktu mereka akan bertatap muka, yakni ketika Langgana ingin melihat Mamunyi. Ia akan menyuruh Kirana untuk mencari dan menemukan Mamunyi, untuk menyampaikan pesannya itu. Dan selama bertahun-tahun, kemana pun Mamunyi pergi—gunung, sungai, lembah, gua—Kirana selalu berhasil menemukannya dan menyuruhnya pulang untuk menemui kakaknya. Tanpa telepati, tanpa ilmu sakti. Hanya intuisi semata.

Mengerti maksud kedatangan Kirana, Mamunyi tidak membuang waktu. Ia berlekas pergi, menjawab panggilan kakaknya. Ia berlari menuju bilik Langgana di istana, diikuti oleh Kirana.

Sesampainya di sana, terlihat seorang ksatria yang pincang, berbaring di atas alas tidur kebesarannya. Tak bergerak, tak berdaya, nafasnya terengah-engah dan sesekali ia terbatuk. Ksatria itu sudah sangat tua, seperti hanya tinggal menunggu ajal. Tetapi melihat adiknya datang, ksatria itu tersenyum. Matanya kembali bersinar.

“Munyi… Adikku, Mamunyi…”

Mamunyi hanya terdiam. Ia pun mendekati Langgana, duduk tepat di sampingnya. Memperhatikan tiap detil bagian dari kakaknya itu, berharap sosok Langgana tak akan pernah hilang dari memorinya.

“Mamunyi, kau… Sudah pulang… Melihat wajahmu sekali lagi, aku bahagia…”

Mamunyi menggenggam tangan Langgana erat-erat. Tangan ksatria perkasa itu, kini terasa begitu lemah.

“A… Ku… Akan pergi jauh…” Suara Langgana melirih.

Detik berikutnya, mereka berdua saling memandang. Lama. Mata mereka bertemu, saling bertukar makna. Terlalu banyak hal yang ingin mereka ceritakan, tapi sampai akhir, tak ada satu kata pun terucap dari kakak beradik itu. Tetap terpendam dalam-dalam. Lalu Langgana mengambil sesuatu dari meja di sebelahnya dan menaruhnya di tangan Mamunyi.

Sepucuk surat. Di atasnya tertulis, Untuk Samiha, di Larapura.

“Surat ini… Permohonan terakhirku.” Langgana menatap Mamunyi terakhir kalinya. Ia tersenyum sekali lagi, lalu mengelus kepala Mamunyi, seperti sedang mengucap berkat. “Pergilah dengan selamat… Adikku, Mamunyi.”

Mamunyi tahu bahwa saatnya sudah tiba. Ia pun mengecup kening kakaknya, lalu bangkit dari sana, keluar meninggalkan Langgana. Pertapa itu luluh lantah, hatinya koyak. Ia menangis sendirian di luar, pada sang surya yang sudah mulai terbit. Tak ada seorang pun yang mendengar tangisan pertapa itu, kecuali mungkin, para dewa dewi. Dan begitulah Mamunyi berpisah dengan Langgana, kakak yang selalu disayangi dan dipandangnya.  Panutan hidupnya.

“Tuan Langgana,”

Kirana memasuki bilik Langgana sesaat setelah Mamunyi keluar. Nadanya terdengar getir.

” Izinkanlah hamba untuk tinggal. Hamba sungguh ingin berada di sini, menjaga tuan.”

Langgana terbahak sejenak.

“Tidak, Kirana… Aku ingin kau pergi… Dengan Mamunyi…” titah Langgana kepada hamba perempuannya itu.

Kirana tak membalas. Intuisinya tak bisa membaca apa yang ada di hati Langgana.

“Kau dan aku tahu… Di sini… Tidak ada keselamatan. Kau sendiri… Mendengar suara lonceng itu, bukan?”

Kirana hanya diam. Sulit baginya untuk berkata-kata lagi. Hatinya meluap.

“Karena itu… Pergi, Kirana.”

Kirana pun berpaling dari Langgana. Air matanya tak tertahankan lagi. Ia meratap. Bukan sebagai hamba, tapi sebagai seorang perempuan biasa yang mudah tersentuh hatinya. Lama ia berdiri lama di tempat yang sama, tanpa memalingkan muka sekali pun.

“Tuan…”

Suara Kirana kembali bersama isak tangisnya.

“Ya…?”

Kirana menghela nafas.

“Mengapa dulu tuan tidak membunuh hamba? Mengapa… Hamba bisa selamat?”

Mendadak bilik itu menjadi hening, seperti kota mati. Kali ini Kirana berpaling, menjemput ekspresi tuannya yang sudah berwajah pucat pasi. Langgana menutup matanya, ia hanya tersenyum. Pertanyaan ini sudah berkali-kali terlontar dari mulut Kirana, tapi tak sekali pun pernah terjawab. Ia pikir, mungkin ini adalah saatnya, kesempatan terakhirnya untuk menemukan kebenaran.

“Kirana… Kau sungguh… Tidak bisa mengingat… Apa yang terjadi… Pada… Waktu itu?”

Kirana menggeleng. Ia mengharapkan jawaban mutlak dari tuannya.

.

.

.

“Takdir.”

Kata itu menggelegar. Seperti sebuah tanda titik. Mengakhiri perbincangan pendek antara hamba perempuan dan tuannya, sekaligus mengakhiri pertemuan terakhir mereka. Hamba perempuan itu tidak bodoh. Ia sadar bahwa ia tidak akan bertemu lagi dengan tuannya. Cerita mereka sudah habis. Kirana pun keluar dari bilik Langgana, tanpa jawaban. Ia bergegas menyusul Mamunyi, yang sudah berangkat menuju Larapura. Kini matahari telah bersinar terang dan begitu hangat, menyampaikan selamat jalan. Ia pun siap memulai perjalanan panjangnya.

Selamat tinggal, tuan, ia ucapkan. Selamat tinggal, ksatria Bamang.

(Bersambung)

Ada kucing lewat.

Alamat yang baru, kayanya ngga bakal lengkap tanpa ada hal yang baru juga.

Jadi,

saya memutuskan untuk n-g-e-t-w-i-t.

Menggila. Terbahak. Terpingkal. Berkhayal. Ketikan maut. Basa-basi goes digital.

Ini adalah penemuan mutakhir, jalan tercepat menemukan saya.

Karena itu, yang tertarik, ditarik ataupun menarik, boleh ngikut nghayal bersama saya di SINI.

Mukasih!

 

Twititititittitii,

Pujangga Kertas

Cerpen keduaku, “Mamunyi”, belum selesai kutulis.

Bisa kubilang, “Mamunyi” adalah sebuah eksperimen—Untuk pertama kalinya, aku menulis sebuah fiksi fantasi berlatar kerajaan di tahun 600 caka. Tidak, ini bukan pelajaran sejarah. Memang banyak inspirasi yang asal muasalnya dari cerita kerajaan-kerajaan di Indonesia dulu, tetapi cerita “Mamunyi” sendiri murni adalah fiktif.

Tantangan terbesar dalam menulis cerita ini adalah alur dan gaya bahasa. Sampai saat ini, plot-plot “Mamunyi” masih terus berkembang dengan luar biasa. Dan karena alasan yang sama juga, menulis cerita jadi sama serunya dengan membaca cerita—Kau tak tahu apa yang akan terjadi di halaman berikutnya, kau menebak-nebak, kau bersiap untuk sebuah akhir yang mengejutkan.

“Mamunyi” berkisah tentang perjalanan seorang pertapa sakti dari kerajaan Bamang yang bernama Mamunyi. Demi memenuhi permohonan terakhir kakaknya, ia mengembara menuju ke Larapura, ibukota kerajaan Lara; untuk menyampaikan sepucuk surat. Kirana, hamba perempuan kakaknya, mengikuti Mamunyi dalam perjalanannya itu. Selama pengembaraannya menuju Larapura, Mamunyi bergelut dengan banyak hal—gurun pasir yang tak terbatas, para panglima kerajaan, makhluk gaib, penyakit keras dan hati manusia. Segalanya, akan berakhir dengan sepucuk surat, seperti bagaimana perjalanan Mamunyi dimulai.

Dan kini, bagian pertama dari kisah “Mamunyi” telah hadir, mengajakmu berpetualang. Hadir sebagai sebuah cerita yang belum rampung, masih terus ditulis dengan berbagai kemungkinan untuk improvisasi dan komplikasi, supaya tetap mencengangkan.

 

Kuucapkan selamat membaca, dan selamat berpetualang.

Pujangga Kertas

I’ve just seen this:

An old number. A story of a man and a world without lies.

Judul karya ini mengatakan segalanya dengan sangat jelas: Bagaimana kebohongan ditemukan. Sebelum itu, jujur aja, aku nggak begitu nafsu buat nonton film-film jadul dudul dengan kualitas gambar pas-pasan, dan nama Ricky Gervais sebagai empunya ide juga belum terlalu familiar buatku. But it was just happened to be in my old collection and well, sebagai seorang “movie-buff-wanna-be“, film ini tetap layak diberi respek yang sepadan dengan film-film Box Officelainnya. Karena itu, mumpung ada waktu senggang, PLAY. Bukan sebuah kritik, tapi sebuah refleksi.

“Bohong itu dosa.” Sounds familiar? Aku tau pernyataan ini datang dari ajaran beberapa agama dan sudah mendunia. Jangan salah, aku sendiri percaya sama hal ini. The Invention of Lying adalah kehidupan di mana semua manusia cuma bisa berkata jujur. No liesno sins. Bahkan tak ada seorang pun yang bisa mendefinisikan kata “bohong”. Kesan pertama: SEMPURNA. Gimana nggak, bumi ini sudah terlalu pekat dengan dusta dan orang-orang jahat yang kerjaannya nipu orang lain.

Coba bayangin aja kalau nggak ada orang yang bohong di bumi ini. Dunia ini pasti da. mai.

.

.

.

Tapi,

(Jujur: “Tadi nyanyimu jelek banget.”)

(Bohong: “Um, lumayan oke kok tadi nyanyinya.”)

(Jujur: “Besok kamu meninggal.”)

(Bohong: “Tenang aja, nggak usah dipikirin. kamu nggak papa kok.”)

(Jujur: “Gadismu jelek, jerawatan, gendut.”)

(Bohong: “Gadismu cakep, cocok sama kamu.”)

.

.

.

Dunia tanpa kebohongan, apa bener bakal jadi damai? Tengok rumus berikut ini:

Jika

BOHONG = DOSAJUJUR = TIDAK DOSA

Bagaimana menanggapi pernyataan

“Tadi nyanyimu jelek banget.”

= JUJUR = TIDAK DOSA

atau

= Menyakiti perasaan = Membunuh harga diri = DOSA

Nope, aku nggak sedang mencari alasan buat membenarkan kebohongan atau membuat orang pusing. Sekali lagi, aku percaya bohong itu 100% dosa. Cuman, kita emang udah terlanjur terbiasa hidup di bumi yang penuh dengan kebohongan. Tentu aja, bukan berarti kita mesti ikutan bohong. Kita selalu bisa milih buat jadi jujur atau bohong, semua tergantung dari gimana kita mengaplikasikannya dan tergantung dari resipien yang menerima pernyataan kita. Teoriku, saat di mana kita menentukan bagaimana kita mengaplikasikan sebuah pernyataan adalah saat di mana pernyataan itu ditentukan akan menjadi dosa apa nggak di masa depan. Misalnya,

Terhadap sahabat baik yang siap mendengar ocehan apapun darimu, ”Tadi nyanyimu jelek banget.”

= JUJUR = TIDAK DOSA

Tapi terhadap adik kelas yang baru saja kenalan tadi pagi, “Tadi nyanyimu jelek banget.”

= Tersinggung = Menyakiti perasaan = Membunuh harga diri = DOSA

.

.

.

Setuju nggak setuju, ini cuma pendapat. Dalam hidup, aku selalu berusaha untuk jadi orang jujur, walaupun susah. Dalam melontarkan pernyataan, seringkali aku menggunakan special converter, yang bisa ngebikin pernyataan yang jujur dan blak-blakan jadi terdengar lebih halus. Contoh: “Jelek” menjadi “kurang bagus”. Aku menamainya, converted honesty. Jadilah demikian:

Sender > HONESTY > Converter > Converted Honesty > Receiver

Kuakui, efek yang didapetin bakal beda. Sama halnya dengan converter di komputer, kualitas produk jadinya bakal seringkali berkurang setelah diconvert. Ada beberapa orang yang memang lebih suka untuk melontarkan pernyataan jujur yang bugil tanpa sensor. Sekali lagi, ini semua terserah, tergantung pintar-pintarnya kita mengaplikasikan hal ini terhadap resipien yang berbeda-beda. Ini adalah sebuah skill. Kemampuan berkomunikasi. Nggak bisa instant, mesti dipelajarin. Nggak gampang, tapi kalau bisa jujur, kenapa mesti bohong?

 

Sekian catatan hari ini dan kuucapkan, selamat berjuang menjadi orang jujur.

Pujangga Kertas

Cklek.

Kubuka jendela.

Panas. Silau. Terik matahari sungguh membuat darahku mendidih. Aku terhenyak. Hari ini, ya, hari ini aku sudah kembali. Kembali ke pemandangan indah depan kamar yang belum cukup membuatku bosan. Kembali ke kasur mungilku yang hangat. Kembali ke Facebook. Kembali kepada para pasukanku di Heroes IV Might and Magic, siap bertempur. Kembali menulis.

9 bulan aku menghilang dari peredaran, dan yang akan anda saksikan di bawah ini adalah alasannya.

Mari kita memulainya dengan hal-hal yang kecil, seperti fyp (sudah sengaja kutulis dengan huruf kecil), atau ‘skripsi’, kalau di Indonesia; plus berjibun komitmen dari kerjaan part-time, bisnis kaos kecil-kecilan, organisasi, band, gereja, pacaran, project-project sekolah yang lain dan sebagainya, dan seterusnya. Alhasil, ini adalah pertanyaan pertama yang selalu muncul ketika aku bertemu seorang teman dekat: “Lu kok bisa masih hidup sih?” Nope, it was not funny. Tetapi mungkin baik dilihat dari tampak luar ataupun dalam, sepertinya aku memang bisa dibilang mayat hidup.

Bicara soal mengatur waktu, entah aku seorang mahasiswa A+ atau F. Yang jelas, setelah mengarungi kesibukan selama 4 tahun, aku berhasil merumuskan teori ini: Yang namanya waktu itu tidak akan pernah bisa diatur. Dalam sehari, manusia punya waktu 24 jam. Pas. Tidak lebih. Tidak kurang. Dan kenyataannya, manusia tidak akan pernah bisa menambah, mengurangi, mengali atau membagi waktu. Bahkan untuk mengatur waktu saja butuh waktu. No? Karena itu, yang perlu ditaklukkan manusia itu bukan waktu, tapi KOMITMEN, atau sebut saja commitment management.

.

Dalam hidup, manusia punya kebebasan penuh buat berkomitmen. Dan setiap komitmen akan selalu diikuti konsekuensi yang berupa waktu. Gampangnya, jika mata uang States adalah US$, maka mata uang komitmen adalah waktu. Misalnya, komitmen A bernilai 40 jam/minggu, atau komitmen B bernilai 3 jam/minggu. Tiap nilai komitmen berbeda tergantung dari kuantitas kita memenuhinya.

Kesalahan yang sering terjadi, manusia biasanya cuma menghitung komitmen berdasarkan hal-hal besar seperti berorganisasi, pacaran atau tugas sekolah. Bagaimana dengan hal-hal kecil mulai dari makan, minum, mandi, tidur, gunting kuku, membersihkan kuping, gunting rambut, mengecek kotak surat, menyapu, mengepel, mencuci, menjemur, olahraga, berdoa, pergi dengan teman, cek e-mail, menelpon orang tua, dan lainnya? Yang aku tulis di atas, semuanya sama. Sama-sama disebut KOMITMEN.

Ya, ini memang bukan hal yang baru. Bukan juga petuah. Atau dongeng sebelum tidur.

Orang boleh menyebutnya mengatur waktu, mengatur komitmen, mengatur diri, aktivitas, whatever. Selama kita tau konsep dasar soal komitmen ini, paling tidak kita aman dari yang namanya frustasi, stres dan rumah sakit jiwa. Nenek bilang, jangan selalu menyalahkan waktu ataupun bilang waktu kita tidak cukup untuk melakukan ini dan itu. Kita manusia sering tidak sadar kalau ‘bagaimana kita melakukan suatu hal’ itu juga memegang peran penting dalam aktivitas kita sehari-hari. Tidak percaya? Gampangnya,

Pertanyaan yang benar: “Berapa lama kamu tidur?” atau “Seberapa susah kamu bangun?”

plus

Pertanyaan yang benar: “Berapa jauh jarak rumahmu ke kampus?” atau “Seberapa cepat kamu berjalan?”

.

Melihat komitmen dan waktu dari perspektif yang berbeda memang bukan hal yang mudah. Aku menimba ilmu yang sama selama lebih dari dua puluh tahun. Sampai sekarang pun, aku belum bisa menjadi mahaguru. Kutengok kembali satu tahun terakhirku di kampus. Sebut saja pengalaman ini seperti ujian. Pengalaman bergelut dengan kakek nenek bapak ibunya kesibukan. Pengalaman edan. Hahaha. Tapi akhirnya aku berhasil menyelesaikan ujian. Walaupun dengan keringat banjir, aku tidak menyesal.

After all, it was my final year. I’ve made it big. I’ve made it remarkable. I’ve made it forever.

Dan kuambil toa yang suaranya lebih kencang dari vuvuzela manapun yang ada di bumi. Kuproklamirkan dengan segenap jiwa dan raga: “AKU TELAH SUKSES MENJADI ORANG GILA SETAHUN.”

Bersamaan dengan itu,

TING-TONG.

Bel berbunyi. Karena itu pelajaran pak guru juga selesai sampai di sini.

 

Matur nuwun,

Pujangga Kertas

« Older entries