“Aaaaaaahhhhh!”
Kirana memekik ngeri. Begitu lantang, memanggil para ksatria Bing Bangau kembali dari dunia mimpi.
Dan terkejutlah mereka setengah mati, menyaksikan makhluk buas yang ada di tengah mereka, datang tanpa mereka sadari. Pemimpin para ksatria itu menghela nafas, ia sedikit gentar. “Ksa.. Ksatria Bing Bangau, angkat pedangmu! Jangan takut! Kepung dia, incar kakinya terlebih dahulu!” teriaknya sambil menghunuskan pedang.
Macan itu mengaum. Baik ia maupun para ksatria Bing Bangau, keduanya sudah siap bertempur. Detik berikutnya, macan itu pun berlari dan meloncat, melontarkan serangan pertamanya. Tak menunda, dengan cepat ia menjerat para ksatria itu dengan enam ekornya, mematahkan tulang-tulang mereka sampai mereka tak berdaya, lalu merobek perut mereka satu per satu, tanpa ampun.
“Tolong! Tolong!” Ksatria-ksatria pemberani itu mulai ribut, ketakutan. Mereka tahu pasti, ajal datang menjemput. Para ksatria berusaha menebas-nebas pedang mereka, tapi tak ada satu goresan pun yang berhasil mereka buat. Dalam sekejap saja, nyawa keempat ksatria Bing Bangau itu sudah habis.
Sementara itu, satu-satunya yang tersisa, sang pemimpin ksatria Bing Bangau melihat celah. Ia terus berlari menuju arah macan raksasa itu, loncat ke punggungnya, lalu menikam kedua mata macan itu dari belakang dengan pedangnya.
“Graaaaaaaaa!” Macan itu meronta kesakitan. Badannya yang besar terpelanting ke tanah dengan keras.
Segera ksatria perkasa itu menikam perut macan itu sekali lagi. Dua kali lagi. Tiga kali lagi. Ia mengira, semua tusukan itu sudah cukup untuk menumpasnya; namun macan itu bangkit, tidak terkalahkan oleh hunusan pedang. Dengan ekornya, ia menepis dan membuang jauh-jauh pedang dari tangan pemimpin ksatria itu, sedang ekornya yang lain, mencekiknya hingga ia tewas. Habislah sudah kelima ksatria Bing Bangau di tempat itu. Tak ada satu suara pun yang terdengar lagi, selain tangisan Kirana yang ketakutan.
Macan yang terluka itu lalu mengendus-endus, berusaha mengenali sekitarnya, karena matanya sudah buta. Ia pun berjalan menuju arah Mamunyi, ia mengenal bau dari pertapa itu. Dengan perlahan ia merobek tali yang mengikat Mamunyi. Tapi begitu ia mendekati Kirana, ia menggeram, seperti ingin segera menerkam Kirana. Tapi macan itu langsung menjinak ketika Mamunyi melambai-lambaikan tangannya di dekat Kirana. Dan demikianlah mereka berdua terbebas dari para ksatria Bing Bangau.
Tangisan Kirana berhenti. Dengan penuh keyakinan, ia pun kini percaya bahwa binatang gaib itu memang datang oleh panggilan Mamunyi untuk menyelamatkan mereka. Ia percaya, bahwa Mamunyi, adik tuannya itu, memang adalah seorang pertapa sakti. Terlampau lelah, ia pun tertidur. Kini tidak dalam ketakutan, namun dalam kepastian.
Pagi yang cerah datang kembali, layaknya telah usai menumpas mimpi buruk yang terjadi semalam.
Kirana terbangun, dan ia sadar macan berekor enam itu masih ada di sana, tapi kini dengan mata dan perut yang diperban. Di sebelahnya, ada Mamunyi, dengan lembut mengelus-elus macan itu.
“Tu, tuan Mamunyi,” sapa Kirana sambil berdiri. Hatinya penuh dengan pertanyaan, yang ia tahu tabu untuk ditanyakan. “Apakah tuan mendapatkan cukup tidur semalam?”
Melihat Kirana yang sudah terbangun, Mamunyi mengambil ramuan tumbuh-tumbuhan yang sudah ia siapkan sebelumnya, lalu memberikannya pada Kirana.
“Ini… Untuk hamba?” Kirana sedikit terkejut.
Mamunyi tidak menjawab. Ia bergegas pergi menjemput macan itu kembali.
“Terima kasih, tuan.”
Karena lapar, Kirana memakan ramuan itu dengan lahapnya. Sampai ia sadar, bahwa di dalam ramuan Mamunyi, terdapat plira—tumbuhan yang konon disebut orang sebagai sumber kekuatan para kaum raksasa. Sementara ia makan, Mamunyi membisikkan sesuatu kepada macan berekor enam itu, sebelum akhirnya ia pergi jauh dari Mamunyi dan Kirana. Lalu Kirana sadar, bahwa mungkin macan itu hanya bisa hidup dalam kegelapan malam, ketika matahari tak bersinar.
Lalu Mamunyi dan Kirana pun melanjutkan perjalanan mereka menyusuri Gurun Matahari. Berkat ramuan Mamunyi, 9 hari dan 9 malam lamanya mereka berjalan tanpa lelah, sampai akhirnya mereka tiba di Tangka Agung, oasis terakhir dan terbesar yang terdapat di penghujung Gurun Matahari. Tangka Agung menyerupai danau besar yang berlapis-lapis, dan di salah satu lapisannya, terdapat air terjun Sanu Bari, gerbang menuju Kerajaan Lara. Hari itu adalah adalah hari ke-72 sejak Mamunyi dan Kirana meninggalkan Batu Ji.
Terdapatlah beberapa pohon ekus di sekitar Tangka Agung, di mana baik panas matahari atau panas apapun tidak dapat menembus daun-daunnya. Karena lelah, berbaringlah Mamunyi di sana sampai ia tertidur pulas. Seraya ia tidur; Kirana, tanpa disengaja, melihat surat Langgana terjatuh dari balik jubah pertapa Mamunyi. Dengan gesit ia mengambilnya, dengan maksud untuk langsung mengembalikannya kepada Mamunyi.
.
Namun ia berhenti.
Jantungnya berdegup kencang. Kirana tahu, bahwa ia hanyalah seorang hamba perempuan dari Langgana. Ia tahu, bahwa untuk diam-diam membaca surat itu merupakan hal yang tabu. Ia tahu, bahwa untuk mengetahui rahasia tuannya akan membuatnya berdosa. Namun ia juga tahu, bahwa hati manusia itu lemah, dan rasa keingintahuannya itu begitu kuat. Lebih kuat daripada yang paling tabu yang ada di dunia ini.
Tak menunda, dibuka dan dibacanyalah surat itu—surat yang berisi permohonan terakhir Langgana.
Samiha,
sahabatku, teman dari jiwaku.
Sesungguhnya aku berharap aku bisa menyampaikan hal ini secara langsung kepadamu. Namun waktuku tidak bersahabat. Dalam waktu dekat ini, Kerajaan Bing Bangau akan segera menyerang Batu Ji dengan segenap pasukan mereka. Dan jika ibukota Batu Ji jatuh, maka tidak akan ada lagi kota yang bisa dipertahankan. Kemungkinan besar, ini, akan menjadi akhir dari Kerajaan Bamang.
Hatiku begitu pedih dan takut, mengetahui bahwa pedang dan panah akan segera menjemputku. Namun Mamunyi, adik kesayanganku, ia tetap hidup, dan kuat. Kubawa ia kepadamu, supaya ia selamat. Bersamanya adalah Kirana, hamba perempuanku. Ia juga adalah seseorang yang kukasihi, namun kehadirannya telah membawa kegelapan ke dalam hidupku dan Mamunyi. Karena itu dengarkanlah permohonanku ini.
Bunuhlah ia. Dan dengan darahnya, Mamunyi akan bisa mendapatkan apa yang selama ini telah hilang dari padanya.
Demikianlah permohonan terakhirku. Biarlah hanya kepadamu, Samiha, jiwaku akan meronta.
.
Kirana berhenti membaca.
Ia tersentak. Tangannya tak berhenti gemetar. Ia tak sanggup menatap tulisan-tulisan dalam surat itu lebih lama lagi.
Tuan Langgana, Tuan Langgana!
Jiwa Kirana menjerit. Sanubarinya terusik. Ia tahu, bahwa pasti ada alasan di balik permohonan terakhir tuannya itu. Namun kepada siapakah hatinya harus bertanya? Langit tidak menjawab, dan deras air memilih untuk diam.
“Aku…” begitu getir Kirana bersuara, “Tuan Langgana… Tidak mungkin bermaksud membunuhku sejak awal, bukan?” Kirana mulai meragu. Tak bisa lagi ia berpikir jernih.
Mengapa, ia bertanya. Ya, mengapa.
.
Dalam kegalauannya, Kirana pun teringat akan macan berekor enam, yang akan segera datang saat malam tiba. Kirana pikir, jangan-jangan, jika nanti Mamunyi bangun dan membaca surat dari kakaknya, Mamunyi bisa menyuruh binatang gaib itu untuk langsung membunuhnya.
“Apakah lebih baik, jika kubunuh pertapa ini terlebih dahulu, sebelum aku dibunuhnya?” hati kecil Kirana berbicara.
Seketika itu juga, darah Bilawala Kirana memanggil kembali keberaniannya yang sudah terkubur lama untuk bangkit. Segera ia mengambil sebilah pisau yang berada tak jauh dari tangannya, lalu ia mulai melayangkan pandangannya kepada jantung pertapa yang tertidur di hadapannya. Perlahan ia mengamati adik tuannya itu. Setiap hembusan nafas. Setiap degupan jantung. Gerakan sekecil apapun tak juga luput dari penglihatan Kirana. Ia sudah siap untuk memilih takdirnya, sebagai sang pembunuh pertapa sakti dari Bilawala.
Diangkatnya pisau itu tinggi-tinggi, siap diayunkan. Siap menikam jantung Mamunyi.
“Matahari,” sahutnya, “kumohon, janganlah pernah terbenam.”
(Bersambung)


Cerpen keduaku, “Mamunyi”, belum selesai kutulis.
